kembalikan baliku: #balitolakreklamasi

p5 copy

“Earth provides enough to satisfy every man’s needs, but not every man’s greed.” – Mahatma Gandhi

Kutipan quotes diatas sudah sangat mengambarkan bagaimana keharmonisan seungguhnya didalam kehidupan di bumi ini, jika kita cermati sejatinya manusia dan alam saling memberi dan membutuhkan tanpa akan ada kekurangan sedikitpun. Manusia sangat bergantung hidupnya dengan alam tetapi manusia tetaplah manusia yang memiliki sifat “rakus” didalam dirinya, itulah beda manusia dengan alam. manusia akan terlihat sangat bodoh ketika dikuasai sifat rakus itu sendiri.

saya walaupun tidak memiliki darah keturunan Bali tapi semenjak almarhum kakek nenek saya mereka sudah menetap di pulau seribu pura ini sampai generasi saya, sampai akhirnya saya sendiri menyebut diri saya orang Bali. Sejak kecil sebelum sekolah sampai selesai kuliah saya habiskan hidup saya di Bali, selesai kuliah saya hijrah ke Jakarta untuk berkarir. Masa kecil saya, saya habiskan di daerah Bali timur tepatnya di kabupaten Karangasem, kabupaten yg bisa dibilang budaya bali dan alamnya masih sangat alami, dan Karangasem termasuk kabupaten yang cukup tertinggal dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Bali pada waktu itu. Pantai yang luas, pohon kelapa, sawah terasering yang indah sangat banyak terlihat pada masa itu. Kebudayaan upacara2 adat di Bali sudah sangat melekat dalam keseharian saya. Salah satunya daerah wisata yang cukup tua di Karangasem yaitu Candidasa, daerah tempat saya tumbuh besar dan mengerti tentang Bali yang sangat terkenal diseluruh dunia. Saat ini saya mungkin baru sadar Bali sangat terkenal bukan karena kemewahan tempat wisatanya tapi melainkan karena budaya, kearifan lokal, seni-nya dan kultur sosial masyarakatnya.

Sekarang Candidasa sudah tak seindah dulu seperti memori masa kecil saya, garis pantai yang sangat luas sampai bisa dibuat untuk bermain sepak bola waktu kecil, sekarang sudah di beton untuk menangkal gelombang pasang air laut, artinya sudah tidah ada lagi pantai dan hamparan pasir putih, yang ada hanyalah air laut dengan ombak ganasnya dan batu beton pemecah gelombang. mungkin ini yang disebut abrasi atau mungkin ini naiknya permukaan air laut secara berkala tiap tahunnya. Mungkin ini fenomena alam yang memang harus terjadi. tapi saya sangat percaya alam seperti itu bukan karna alam tidak lagi bersahabat dengan kita melainkan kita yang sudah tidak bersahabat lagi dengan alam. Saya juga sangat percaya alam hanya butuh keseimbangan dalam melanjutkan hidupnya dan ketika manusia tidak bisa memberikan keseimbangan itu maka alam akan membuat proses keseimbangan itu secara alami. Dalam ajaran agama apapun diajarkan bagaimana kita berhubungan dengan alam, mungkin ajaran leluhur di Bali mengenal dengan istilah Tri Hita Karana, dalam islampun juga ada, dan tentunya agama lain. Kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup manusia menyebabkan terkikisnya nilai-nilai kearifan lokal yang ada di bali sehingga menyebabkan banyak dampak negatif bagi orang bali sendiri. Menjadi budak di tanah surga sendiri.

Mendengar isu kawasan konservasi teluk benoa akan di reklamasi awalnya saya tidak terlalu menghiraukan tentang hal tersebut, orang indonesia mungkin sudah muak untuk ngurusin orang lain apalagi alam, buang sampah aja masih sembarangan apalagi ngurusin reklamasi. Lebih baik, kebanyakan orang indonesia memikirkan bagaimana bisa bertahan hidup dan bekerja hari ini untuk bisa makan esok hari, jadi boro-boro ngurusin reklamasi. haha… Tapi saya bersyukur saya tidak sebegitunya untuk bertahan hidup apalagi di kota besar seperti jakarta saat ini. Mendengar isu reklamasi di bali semakin ramai dan banyak aktivis, seniman dan kawan2 saya di bali menyorakkan batalkan rekalamasi, sayapun mulai untuk mencari tau sendiri apa sih reklamasi dan dampak yang dihasilkan dengan direklamsinya teluk benoa, walaupun awalnya saya sangat pasif terhadap rencana tersebut. Saya terkejut dan merasa hal ini sangat berbahaya untuk Bali kampung halaman saya, tempat memori masa kecil saya  tumbuh besar. Saya berpikir belum reklmasi aja Candidasa sudah abrasi parah mungkin karena pembangunan yg tidak terkontrol atau apa saya tak tau, bagaimana nanti kalo reklamasi dilakukan?!. Saya makin mencari tau dan membaca banyak bagaimana reklamasi sangat membahayakan Bali dimasa depan dari segi alam, sosial budaya serta masyarakatnya sendiri, dan memang sangat berbahaya. Sekali lagi saya punya pandangan bahwa Bali terkenal bukan karena hotel, resort, villa atau bangunan mewahnya, melainkan karena alam, seni-budaya dan sosial manusianya. Itu yang menjadi “ruh” bali sendiri. Tanpa kemewahan hotel atau resortpun Bali saya percaya tetap akan terkenal di dunia. Berawal dari pemikiran tersebut saya sebagai desainer tidak bisa lagi pasif tinggal diam. Campaign berikut mungkin membantu bagaimana bali (benoa bay) sesungguhnya tidak perlu di reklamasi. Sosial campaign penolakan saya buat sedikit “nyentil” dan saya mencoba untuk mengembalikan kejayaan masa lalu bali yang sudah mendunia tanpa “kemewahan” yang tak “manusiawi” seperti saat ini.

haha…kebesaran Bali sekali lagi terletak pada alam, adat budaya dan manusianya. Mari tunjukkan kebesaran kita kepada manusia “rakus” itu! silahkan sebarkan kalo mau!

ditulis dalam keadaan sadar dan mencoba menceritakan dengan sebenarnya.

Mendukung penuh terhadap penolakan reklamasi teluk benoa!

Panji Krishna for Bali
Jakarta, 23 oct 2014

campaign BTR 01 campaign BTR 02 campaign BTR 03 campaign BTR 04 campaign BTR 05 campaign BTR 06 campaign BTR 07

sumber foto: dari berbagai sumber internet (google.com / wikimedia.org / balimediainfo.com / antimateri.com / bintphotobooks.blogspot.com)